Total Tayangan Halaman

Senin, 20 Juni 2016

Truth or death



      Aku melangkah menuruni tangga kayu yang mulai terkoyak catnya,menatap seorang ibu yang menggedong anak nya sambil tersenyum,aku menghela nafasku,rasa dingin di dadaku datang lagi,aku melangkah melewati kebahagian itu,pergi kejalan ramai,dimana aku merasa tidak sedirian.
        Aku senang melihat wanita itu,tapi demi tuhan membenci masa lalu ku ketika bersama wanita yang punya anak seperti nya.aku mengingatnya dengan saat jelas,saat saat paling membahagiakan bagi ku hanya tentang,ranjang,serai putih kusam yang bau dan pelukan ibuku yang bau bawang putih dan cengkeh.
     Ia menceritakan dongeng dongeng menakutkan yang kadang membuat ku menjerit,lalu ketika aku menjerit sekuat tenaga yang membentakku,menekan pipiku dengan tangan kirinya,melotot dan kadang menamparku.
     Ia menceritakan banyak dongeng seperti ibu ibu di rumah hangat mereka,tapi dengan cerita yang berbeda,ibu ku gila dan aku tau ketika melihat matanya.
      Suatu malam ia membacakan cerita Cinderella nya,terkekeh setiap kali melihat ku ketakutan,dengan desahan dan bisikan di telingaku,ia membuat ku selalu tersiksa.
   Ia bercerita bahwa ibu tiri Cinderella memotong kaki anak nya agar kaki itu muat di sepatu emas yang di bawa pengeran.
“kau tau ellin…darah mengaliri sepatu emas itu”.
   Ia berbisik ditelingaku,lalu terkekeh sambil memegangi perut,sementara aku berusaha setengah mati tidak membaut nya marah dengan tidak berteriak.
“tapi ellin,yang mana menurutmu yang paling menarik”.
   Ia diam,aku melihat matanya yan kosong mulai menggila.
“aku suka ibu tiri yang jahat itu memakai sepatu yang dipanaskan sambil menari hingga mati”.
    Ia menatap mataku,matanya yang tajam mengerjap,bibirnya tersenyum miring,aku merinding.sesungguhnya ibu ku sudah menceritakan setiap dongeng nya berulang kali dan ia mulai meracau,bukan ibu tiri cinderela tapi ratu dalam snow white yang harus mengalami hal seperti itu,aku ingin bicara,tapi menatap wajahnya saja aku takut sekali.
“bagaimana jika,kau memakai sepatu seperti itu”.
    Bibir ku bergetar,lalu yang terjadi setelah itu adalah sebagian dari penyiksaan nya untukku,rasa sayang nya yang salah,ia benar benar membakar sepatu karet sekolah ku,membenamkan nya ketungku musim dingin,aku menangis didepan tungku itu,menahan suara di bibirku,ia menyeretku agar duduk di sofa,lalu menaruh sepatu karet yang meleleh itu di atas kakiku.
  Aku berteriak kesakitan,semua kulit kakiku di tetesi karet yang meleleh,tapi semakin aku menangis,berteriak atau memohon,maka semakin suka dia melakukan hal yang menyakitiku.
   Malam itu,hujan turun,ibuku tertidur di sofa tempat dia menyeretku dan memaksaku duduk disana,sementara aku terisak membersihkan kaki ku yang berdarah dan terkelupas kulitnya,aku menggigit bibir ku agar rasa sakit itu bisa ku rasakan sendirian,tanpa mengganggu tidur damainya.
…………..
         Di malam yang lain,malam dingin di bulan agustus,ia masuk kekamarku,berbaring disampingku dengan mata yang kosong lalu mulai menceritakan sebuah dongeng.
    Ia menceritakan Sleeping Beauty nya yang malang,matanya berkaca sejak di kata pertama,dengan lembut membelai rambutku dan tersenyum samar dengan mata yang layu.
      Ia bilang beauty tertidur karna jarinya terkena jarum jahitnya,lalu seorang pangeran datang dan memperkosanya,melakukanya berulang kali,sampai beauty mengandung anak mereka,ketika anak itu lahir,ia kelaparan lalu mengecup jari ibunya,hingga melepas jarum yang membuat beauty tertidur.
        Lalu sebelum cerita itu selesai,ia mengecup keningku,membelai rambut ku dan menghilang di balik pintu sambil membiarkan air matanya jatuh dalam diam.
      Aku tidak suka dongeng yang dia ceritakan,tapi aku suka rasa sayang nya saat menceritakan satu dongeng itu,bertahun tahun kemudiam aku baru tau,bahwa ia menceritakan dirinya sendiri,beauty tidak pernah di bawa keistana,tapi terbangun dalam traumatis.
      Beauty ku yang malang.
…………..
        Aku duduk di halte bus,menunggu bersama anak anak remaja yang sibuk membicarakan sesuatu,aku terpojok disudut bangku,aku benci hal seperti ini,demi tuhan aku ingin membunuh anak anak itu,aku menelan ludahku yang terasa hambar lalu memejamkan mataku,cara ini selalu manjur saat aku depresi dan hampir gila.
       Di masa lalu,aku lagi lagi mengingat semua itu dengan jelas,ketika anak anak kecil kurang ajar itu terus bertanya padaku,dimana ayah ku,di mana ibuku,karena setiap hari aku pergi kesekolah sendirian,baju kusut ku yang bau dan kusam selalu mereka tertawakan,tapi aku tau apa yang benar benar membuat mereka terhibur, sepatu yang dibakar ibuku,lalu aku harus memakai sepatu kebesaran yang entah milik siapa yang di berikan seseorang padaku.
     Pertanyaan pertanyaan itu yang mengalir di nadiku,aku mengingatnya terlalu jelas hingga tak pernah samar sampai kapanpun,pertanyaan yang tiba tiba datang dan harus berakhir dengan jawaban orang lain.
     Bus datang.aku tegak duduk di samping kaca,menatap hujan yang turun perlahan,seseorang disamping ku tidak sengaja tergores sisi besi yang terbuka di pegangan bus,aku melihat goresan sepanjang sepuluh senti di kulitnya,memutih kehilangan kulitnya dan mengilang bersama darah yang mulai mengalir di tangannya,aku menghela nafasku,orang itu tidak mendesah takut apa lagi menangis,ia hanya terkejut dan mengatakan bahwa itu perih,seseorang memberikannya kain untuk menutupi darah yag mulai menetes ke lantai bus,aku tidak suka wanita itu.
        Aku turun di halte bus berikutnya,menyelipkan pisau sepuluh sentimeter kepinggangku lalu menutupnya dengan jaket hitam ku yang harum bunga mawar samar,masuk melewati gang gang kecil yang hangat dan lembab di sekitar kawasan kumur yang bau sampah.
   Aku mengetuk pintu rumah salah satu gubuk di sana,mencium bau yang entah apa bercampur ketika pintu terbuka,aku masuk dan duduk di bangku kecil,mengamati barang barang yang berhamburan dan res yang mencoba menjelaskan sesuatu padaku.tentang rumahnya,tapi aku tidak perduli.beberapa detik ia diam lalu mulai bicara,enta apa,aku tidak mengerti.
“ada apa lagi dengan mu crise”.
   Sekali lagi aku tidak perduli.
“kau mendapatkannya”.
    Ia mengangguk,lalu menyerahkan pisau cantik dengan ukiran meliuk liuk di pegangannya,aku tersenyum,senang sekali,rasanya darah itu sudah bisa ku cium,setelah menjatuhkan berlembar lembar uang diatas meja nya yang hampir ruboh,aku melangkah pergi,mencari sesuatu.
      ngomong ngomong darah seperti apa yang menyenangkan untuk disentuh?.
……………….
      Saat aku keluar dari gang sempit itu,langsung ku temukan seeorang yang akan sangat mudah memberikan darahnya ke tubuhku,ia melangkah mendekat,bau wine murahan  bercampur di mulutnya ketika bicara,di kepalanya,aku melihat kebodohan bergumpal,menyumbat fikirannya.
“kau puaya teman,nona”.
     Aku melihat denyutan nadi di leher nya,tanpa ku sadari aku hampir akan menerkam nya.
“kau punaya seseorang untuk tidur dengan mu”.
   Ia mendekat,menggenggam tangan ku dengan tubuhnya yang tergopoh gopoh mabuk.
“kau mau jadi orang itu”.
     Ia terkekeh,lebih mendekat,hembusan nafasnya benar benar memuakan,tapi aku tidak bisa menorehkan pisau itu ke wajah tampannya sekarang,terlalu banyak sorotan lampu disini.
  Aku menarik tangan nya yang hangat,desiran itu datang lagi,aku merasa dadaku meboncah,aku hampir gila.aku menyeretnya memasuki bar yang ribut,ooh…aku benar benar menyukainya,apayang harus aku lakukan sekarang.
“bagaimana caramu memulainya”.
      Ia mulai meraba tubuhku ketika kami masuk kekamar kecil disamping bar.
“kau mau memulainya dari mana”.
    Wajahnya mulai memerah,aku tau apa yang dia inginkan,tapi sayang aku tidak menginginkan apa yang dia inginkan.ia mendekat,aku tetap berada di tempatku,menunggunya melakukan apa yang dia inginkan,ia mendekat lagi dan saat itu entah bagaimana,aku merasa dia sendiri yang melukai tubuhnya,aku hanya menaruh pisau itu menghadapnya lalu dia sendiri yang datang menusukan tubuhnya ke pisau itu,apa salah ku.
     Ia dapat melihat senyuman ku,itu memastikan bahwa sekarang dia belum mati,aku menghempaskan tubuhnya keranjang seprai putih yang mulai merah,berbaring disampingnya sambil perlahan membuka satu persatu kancing kemejanya.menyenangkan sekali,melihat wajah itu ketakutan dan bergetar,aku sangat menyukainya,ya tuhan,sangat menyenangkan.
     Lalu yang kulihat setelah itu adalah tubuh putih pucat dengan darah di sisi kiri perutnya,aku tentu tidak bodoh dengan mebiarkannya bereriak,aku tidak senagaja memasukan semacam racun yang membuat mulutnya menjadi kaku ke pisau yang dia tusukan sendiri ke kulitnya yang rapuh,sungguh,aku baik sekali padanya.  
    Aku mulai meraba tubuh itu,ada denyutan yang indah sekali disana,hanya sekali gerakan,agar dia tidak merasakan sakit,aku mencabut pisau yang menancap di perutnya,ia mengerang jika saja racun itu tidak bekerja,aku menyukainya, karna itu aku tidak ingin dia berteriak,mengerang atau apapun seperti yang pernah kulakuan di masa lalu.
      Aku meraba kulitnya hingga ke leher,aliran itu terasa di jariku yang berlapis sarung tangan wol yang hangat,membuat adrenalin ku menggila,perlahan,agar rasa sakit itu terasa lebih menenangkan,aku menorehkan pisau itu ke perut sebelah kananya,ia meronta tapi tidak akan bisa lari,racun itu lebih membantu dari pada yang aku fikirkan,ketika hampir sampai kedadanya,aku merasa ada yang salah dari tulisan dikulit itu,aku tidak menyukai karya ku sekarang,aku memperhatikan wajahnya yang ingin bicara padaku entah tentang apa,aku yang baik mendekatkan telingaku ke bibirnya,apa?samar sekali,aku tidak mendengarnya,dan aku berharap ia mengerti aku bukannya tidak ingin mendengarkannya.
        Ku kikis ukiran ukiran kesalahanku tadi dari kulit nya,ku ganti dengan sesuatu yang lebih menyenangkan,aku berfikir sebentar,menatap wajah lelah dan kesakitan itu mulai membeku,apa sebentar lagi,ini tidak akan menyenangkan karna waktunya akan habis,sementara aku tidak punya ide.lalu tiba tiba wajah pu yang manis dan warna ya yag hitam datang kekepalaku,aku yakin laki laki ini akan terbaring dengan tenang,bila wajah pu ku ukur di tubuhnya,aku meraba tubuh itu lagi,mencari jarak yang tepat,memulainya dari mata tajam pu,perlahan sekali supaya karya ini terlihat cantik,setidaknya mereka bisa mengagumi tubuh ini sebelum di belah belah dan di bolak  balik,untuk mencari siapa aku.
   Tangan ku mulai kaku dan lelah,ketika hanya tinggal segaris senyum kucing cantikku dan ketika semuanya selesai,aku merasa benar benar mengenali wajah di kulit itu,wajah pu ku yang cantik.darah akan mengering dan menyempurnakan bulu hitam pu ku.
    Aku terkekeh sebentar,benar benar bahagia,sementara aku lupa,berapa jam setelah racun itu membuat semua tubuhnya lumpuh dan jantungnya membeku,ia sudah mulai memucat dan kehilangan darahnya,aku mendekat ke pipinya yang harum darah,mencium pembuluhnya yang lemah di leher,kubisikan sesuatu yang selalu ingin kutau,sesuatu yang dulu terus teman teman ku tanyakan,aku bersumpah jika dia mnjawab dan jujur padaku,aku akan melepaskannya.
“dimana ayah dan ibuku,siapa namaku”.sesederhana itu,tapi ia diam membisu.
      lalu,sebelum menutup pintu dan pergi,kulihat mata itu membeku,menatap langit langit ruangan,dan saat aku menutup pintu,disitulah rasa haus ku akan ketakutan orang lain menghilang,aku merasa tidak butuh makan seminggu ini.
……………….
        Samar,tapi aku melihat matahari menerpa horden putih porselin yg melayang layang,aku lupa menutupnya lagi,aku meraba kameja putih kebesaran yang datang sendiri kerumah ini dengan noda darah berhamburan,entah siapa yang meninggalkannya di mobilku,aku melirik jam yang berdetak nyaring,jam sepuluh pagi,aku menghela nafasku,merasa persendian ku bergeser semua,entah apa yang kulakukan di hari sabtu ku kemarin.
   Di samping  tempat tidur ku,aku melihat sup yang hampir dingin dan Koran yang aku tau,pasti sengaja diletakan di sampig sup itu,aku meraihnya,membaca bagian pertamaya,kematian,pisau,lukisan kucing,entah lah.
   Tapi aku tersentak menatap gambar ditubuhnya,ada apa dengan public yang lupa harus ada yang disensor,perlahan aku merasa jemariku menyentuh tubuh itu di Koran,melihat lukisan yang begitu kukenali disana,aku tercekat dan loncat dari tempat tidur,menemukan buku diary ku tergeletak dengan darah ketring di lembarannya,aku menghela nafasku,lalu bertanya,apa yang kulakukan tadi malam.
       Di kegugupanku,pu hitam ku datang,saat ia meloncat keranjang ku dan menggeliat di tubuhku,aku sadar bahwa tidak ada yang mengerti dan dapat ku ingat ,kecuali,tara yang menyiapkan makana dan selalu membersikah tubuhku,apa saja yang aku lakukan setiap jumat malam,Louis,ren,siapa namanya sebenarnya,dan pu ku yag manis,juga pekerjaan tetap ku,lalu siapa nama ku sekarang,aku kembali melupakannya.karna selain mereka bertiga dan kenangan di masa kecil ku juga beberapa hal lainnya,tidak ada yag dapat ku ingat,termasuk siapa diriku.
    saat aku menatap Koran itu lagi,rasa haus datang lagi,aku merasa semua bayaran dari lukisan lukisan ku di kanvas tidaka kan lebih mahal dari rasa senangku ketika melukis di kulit seseorang.
   Sekali lagi aku bertanya.aku berjanji hanya beberapa pertanyaan,jawab dengan jujur,ku mohon.
“siapa namaku”.
“dimana ibuku”.
“dimana ayahku dan…”.
“darah seperti apa yang menyenangkan untuk disentuh?”.

satu kesempatan

Setiap orang punya satu kesempatan untuk mengetahui atau melupakan sepenuhya yang belum ia tau
        

     Mungkin bukan di salju pertama,kedua atau entah lah ketika kabar itu melayang di udara dan masuk kesaluran telephon persis jam 5 sore,ketika langit berwarna orange dan beton beton jembatan sempurna membentuk bayangan melengkung,aku beregas dari eies villet ke stasium notenngham tua disebelah londry.
       Jantung ku berdebar dan setiap hal yang ku injak terasa tidak berada ditempatnya,aku duduk disamping wanita tua berkemeja abu abu yang berbau lavender,ia tersenyum dan aku membalasnya,kemudian menatap jendela bus yang mulai gelap.
      Beberapa menit yang lalu ketika aku duduk didepan perapian,meminum teh hangat ku,seseorang menelphon dan mengatakan mom tidak baik baik saja,maka secepat yang aku bisa aku berlari ke stasiun dan pergi kerumah nya di manhhatan beberapa kilo dari rumah ku.
      Membicarakan aku dan mom,tidak banyak hal yang bisa membuatku senang,ia bukan ibu yang benar benar anak anak sukai,ia hanya wanita yang pergi bekerja ketika matahari belum benar benar tertbit dan pulang ketika aku sudah tidur,mom tidak pernah mau membicarakan ayahku,ia hanya bilang nanti aku akan tau,yang sampai hari ini semuanya tidak pernah ku tau.
     Mom memiliki mata biru sepertiku,rambut ikal seperti matahari terbenam dan wajah yang cantik,ia tegas dan pemarah tapi tidak pernah memukul ku,Ia bukan tife wanita yang menangis tentang apapun,mom tidak pernah meceriatakan dongeng sebelum aku tidur ketika masih kecil,hanya beberapa kali aku melihatnya masuk kekamarku dan mengecup keningku,mengira aku sudah tertidur.mom adalah sebuah dunia yang dekat tapi tidak bisa kusentuh,ia sedingin salju,maka aku akan membeku berada disisinya.
        Hampir lima tahun kami,aku dan mom membentuk jarak yang tidak kami mengerti,aku mencintainya dan meski tidak pernah mom ucapkan aku tau dia juga mencintaiku,tiga tahun yang lalu aku pindah ke brun,bekerja dan jarang sekali datang menjenguk mom,karna itu,maka sekarang aku mulai menyesali banyak hal.
       Sejujurnya mom tidak terlalu suka sikasihani,ia setengah mati akan membiarkan rasa sakitnya bila itu mungkin ia lakukan,sesungguhnya aku tidak terlalu heran kenapa mom diusianya yang baru saja 40 tahun minggu kemarin seburuk sekarang,mom pecandu alcohol dan gila tanpa rokok,ia menghabiskan berdolar dolar hanya utuk meminum bergelas gelas anggor lalu teler di bar,bebrapa kali aku mengirimkan uang yang diam diam ku buat seperti bantuan pemerintah,mom tidak akan mau menerima bila ia tau itu dariku.
       Mom mengerti arti kerja keras,tapi buta tentang bahagia yang sebenarnya,ia melangkah di sepanjang jalan dan mehabiskan uang nya.setelah aku di burn,beberapa orang yang dekat dengan mom dan masa lalu kami mengatakan banyak hal pada ku setaip kali bertemu,dan mom lebih parah dari sebelum aku tinggal sendirian,mom menghabiskan gajih bulanan nya sebagai pegawai pembersih kantor hanya dengan rook,alcohol dan beberapa bungkus gandum yang kadang hanya cukup untuk setengah bulan bahkan kurang dari itu,hal ini yang membuat hubungan kami buruk,mom bahkan menumpuk banyak hutan yang diam diam ku bayar,ketika orang itu tidak lagi menagih mom akan lupa ia pernah punya hutang.
       Aku tidak tau persis kapan aku di lahirkan,tapi mom bilang ia memiliki ku ketika umurnya 16 tahun dan mom tidak pernah mengatakan apapun tentang ayahku,tidak pernah,ia bilang aku akan tau.
        Aku menghela nafasku dan menatap kaca jendela yang sempurna menghitam.dari pantulan kaca aku melihat perempuan dengan wol abu abu itu tersenyum padaku,aku memalingkan wajah ku untuk menatapnya dan membalas senyumnya.
“banyak hal yang tidak kita tau anak ku”.
      Mata nya lembut dan aku merasakan kehangatan ketika ia menggenggam tangan ku,aku tersenyum dan mengira itu mungkin karena wajah ku yang sejak tadi memikirkan mom.
“aku ingin bertanya,boleh?”.
     Aku mengangguk lambat.
“apa yang kau lakukan jika aku memberimu dua pilihan,mengetahui yang belum kau ketahui atau melupakan semuanya dan hidup seperti biasanya?”.
   Aku menaikan kening kanan ku,menatap wajah tua yang sayu itu.
“aku akan mengambil kesempatan untuk tau,tentu saja”.
       Ia tersenyum lagi,lalu menghembuskan nafasku,genggaman di tangan kanan nya untuk kedua tangan ku mengerat,lalu semuanya terjadi begitu saja,aku merasa tubuhku seringan kapas dan semua hal menjadi gelap,lalu ketika aku membuka mata,aku melihat dunia yang sepertinya tidak pernah aku ketahui,ini di musim salju,sama seperti yang sebenarnya terjadi,tapi aku berada di depan sebuah rumah besar di sekitar manhhatan,halaman rumahnya penuh dengan rumput mati dan salju yang meleleh,aku melangkah lambat mendekat pada rumah besar itu.
      Bau harum dari sup dan kental rebus melayang layang di udara,ketika aku sampai persis di depan rumah suara teriakan teriakan dan pecahan entah apa terdengar hingga keluar rumah,aku mencoba membuka pintu dan yang terjadi tubuhku menembus kenop pintu,aku masuk kerumah itu tanpa membuka pintunya,seketika jantung ku berdebar,tapi aku masih bisa melangkah maju.
     Ketika akan naik ke atas tangga,seorang wanita degan wol abu abu itu menyentuh pundakku,mengangguk meyakinkan ku entah tentang apa,lalu ia menggenggam tngan ku lagi,kami naik kelantai dua,rumah ini rumah kayu yang besar,beratap runcing dan tinggi,paku paku yang di tumbuk di papan sedikit menyembul keluar.
      Kami menembus beberapa ruangan hingga sampai di dapur,wanita  dengan wol abu abu itu membuang mukanya kesamping bahuku,aku melihat beberapa orang saling memeluk di bawah meja kayu tua yang rapuh,didepan mereka laki laki dewasa melangkah mendobrak pintu,membawa pisau yang mengkilat di bawah cahaya lampu.
     Aku tercekat ketika ia menarik salah satu tangan wenita di bawah meja,yang lain berteriak dan berusaha menolong,mereka ada empat orang,ada satu orang yang membawa bayi kecil yang masih merah,dua wanita yang lebih dewasa dan satu orang yang bergetar dibelakang mereka semua,yang kemudian mengambil bayi kecil itu dari tangan wanita yang tangan nya ditarik laki laki itu.
        Laki laki itu memiliki mata yang tajam,ia memainkan pisau di leher wanita muda yang tadi ditariknya lalu sedetik kemudian,aku mengerjap melihat darah berhamburan kelantai,wanita itu jatuh menghantam kaki meja,matanya mengerjap beberapa kali sebelum melemah dan terpejam,aliran darah membasahi dapur dari goresan dalam di lehernya.
   Aku menelan ludaku,membeku,mencoba menghentikan laki laki gila itu ketika mengambil satu orang lagi dan melakukan hal yang sama pada wanita yang lebih muda,aku beteriak,darah kembali berhamburan,ia tertawa,aku mulai frustasi karna tidak bisa melakukan apapun,wanita dengan baju wol itu,menatap ku,tapi ia sekarang setenang air.
       Aku kembali berteriak dan mendekat ingin menghentikan,mencoba membunuh laki laki itu terlebih dahulu dengan apapun yang kulihat di ruang temaram ini,tapi semuanya terasa semu,tangan ku tidak pernah bisa menjangkau apapun.lalu ketika laki laki itu hampir menarik tangan anak perempuan yang menggendong bayi,wanita yang sekarang membelakangiku keluar sebelum di tarik oleh laki laki itu,menarik juga tangan wanita muda dengan gendongan,lalu setengah mati membuat wanita itu bisa keluar dari ruangan ini dengan membawa bayi itu,lalu hanya sekejap,aku bahkan belum mengedipkan mata setelah wanita muda itu lari dan membawa bayi,laki laki gila itu melakukan hal yang sama pada wanita itu,ia tersungkur dan menghantam lantai.aku mundur beberapa lagkah dan histeris,kepala menggelinding mendekat ke kaki ku, bersama darah berhamburan dari nadi laki laki itu,ketiak wajahnya di sinari lanpu kekuningan aku tau siapa wanita itu,aku mengenalinya.
     Baju wol abu abunya.
      dan ketika aku menatap kesamping tubuhku,wanita itu menghilang, tubuhku kembali terasa ringan,kegelapan dan aku terbangun di bus yang hampir sampai di manhhatan.sejak kapan aku tertidur dan bermimpi.
…………..
    Rumah mom tidak terlalu juh dari halte,aku hanya perlu melangkah keluar bus dan berjalan beberapa blok,salju masih terjatuh di tanah manhhatan,aku mengeratkan tubuhku,mencoba tdak mengingat mimpi atau apapun itu.
    Ketika sampai didepan rumah mom,aku bergantian menyentuh permukaan kenop dan bel,ragu ketika akhirnya membuka pintu yang tidak terkunci,nafas ku tercekat menginjak lantai yang entah sudah berapa lama tidak aku sentuh,aku melangkah lambat ke kamar mom,ruangan di rumah ini sedikit lebih terang dari biasanya,di ranjang kayu berwarna toska,mom tertidur dengan wajah pucat dan infus di tangan nya,seorang wanita yang biasanya mengabariku tentang mom duduk menunggu dan tersenyum,aku melangkah pelan agar tidak menganggu mom,meski akhirnya mom mengeliat dan membuka matanya,menatapku dan dengan matanya yang berkaca menyuruh ku mendekat.
       Wanita yang menunggui mom pergi keluar meninggalkan kami,menyisakan aku mom dan kebekuan,mom menggenggam tangan ku dan hati ku mengembang,aku menatap matanya yang layu dan lembut,mom tidak seperti biasanya.
“my love,maaf tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik untuk mu”.
   Air matanya menetes,jatuh di punggung tangan ku,aku memeluk tubuhnya yang rapuh.
“kau lebih dari yang ku ingikan mom,maaf karna tidak bisa selalu ada disampingmu”.
     Aku memegang bahunya yang menonjolkan tulang,sudah serapuh ini kah ibuku.
    Mom tersnyum,aku menghapuas air mata di pipinya,ia menghela nafasnya lalu menggenggam tangan ku lebih erat,seperti baru saja orang lain lakukan padaku.
“kau selalu menanyakan tentang ayah mu,maka au harus menceritakan,memberi tahumu”.
    Aku menaikan kedua alisku,mendekat pada tubuh rapuh mom,menunggunya bicara.
    Untuk beberapa saat,kami hanya saling menatap,menggeggam tangan dan diam.hingga mom mengeluarkan sebuah foto dengan bingkai kusam hitam putih,Ia mendekatkan foto itu padaku,ada empat wanita yang berdiri sambil tersenyum,salah satu dari mereka menggendong seorang bayi.lalu mom mengeluarkan satu lagi pada ku,ia seorang laki laki yang aku tidak yakin,tapi aku merasa pernah melihat orang itu,baru saja.
    Mom menunjuk satu persatu orang orang dalam foto itu,ia bilang ia hanya punya dua keluarga dalam hidupnya,setelah ayah nya meninggal,ibunya dan kaka perempau nya,lalu ia menunjuk dua orang yang dengan bergetar kuakui aku kenali,wanita muda yang ditarik keluar dari bawah meja makan dan seseorang yang meyerahkan bayi kecil itu pada wanita yang lebih muda,aku mulai tecekat.
“tebak yang mana aku”.
   Mom tersenyum,aku membeku,air mata ku terjatuh kelantai rumahnya,dia wanita itu,wanita yang sangat muda,16 tahun,dia menemukanku ketika umurnya 16 tahun.
    Mom menatap wajah ku lagi.
“dan dia”.mom menunjuk wanita berwol abu abu.
“dia ibu mu,sayang”.
    Aku sempurna membeku,tangan ku yang menggenggam tangan mom bergetar.
“ayah dan ibu mu bercerai,ibu mu wanita yang baik dan ayah mu menginginkan mu lebih dari pada apapun yang kau fikirkan”.
      Mom menunjuk foto hitam putih seorang laki laki yang berdiri sendiri.
      Cahaya bulan merambat masuk lewat celah celah jendela kamar.
“kau mau aku menceritakan semuanya”.
   Aku menggeleng,aku tidak ingin tau,untuk kali ini aku tidak ingin mengambil kesempatan itu,biar saja semuanya seperti sekarang.
       Mom ku,dia tidak pernah menikah,mom memiliki ku dan setengah mati menjaga ku tetap hidup damai sampai hari ini,memberikan ku kehangatan dengan saljunya,ia tenggelam bersam alcohol dan rokok setap kali mengingat malam itu,mom yang muda bekerja dengan keluargaku,bersama ibu dan kaka perempuannya, lalu malam itu datang ,ayah menginginkan ku dan semuanya terjadi.
     Mom sudah tertidur,wajahnya tenang sekali,aku menggenggem tangan nya lebih erat,mencium pipinya yang tirus dan pucat,malam ini,aku tau bahwa mom lebih dari pada apapun yang pernah ku fikirkan,bahwa salju ku adalah satu satu nya salju yang hangat.


Burger



      Cerita ini sangat sederhana,tapi hanya beberapa jam sampai membuatku terjebak di dalam situasi ini,cahaya lampu kekuningan perlahan masuk dari sela sela atap renggang yang rapuh,ruangan ini berdinding beton dan berada di belakang jalan raya,tidak,maksudku di dalam nya.
       Aku mik,jangan tanyakan apapun tentang hidupku karna itu membuat ku sedih,aku hanya akan membicarakan seseorang yang duduk didepan toko kecil yang hampir tutup di samping gas station,mengeratkan jaket kumal dan menunduk menatap salju yang jatuh di sepatunya.
       Awal musim salju di Westchester avenue,ketika aku melangkah lambat sambil memeluk jaket tebal ku,melangkah di sepanjang jalan sambil memikirkan hal apa yang hangat dan akan menyenangkan di makan di musim dingin.
      Mungkin hampir jam 12 malam ketika aku melewati jalan itu,pulang dari kerja lemburku,beberapa clup baru saja ramai dan lebih banyak kedai yang tutup dan kosong.dari jauh aku melihat gas station penuh,malam selalu ramai di new york,bahkan ketika musim dingin.
    Aku berhenti di depan toko kecil yang sudah agak remang,mungkin akan tutup,duduk di terasnya yang menyatu dengan aspal jalanan,disana ada seseorang duduk dengan menunduk,aku menegur dan menyapanya,ia menaikan wajahnya dan membalas sapaanku.
“kemalaman?”.
    Orang itu masih menunduk tapi mencoba mengobrol.
“ada sesuatu yang harus di kerjakan di kantor”.
    Ia menghela nafasnya,membuat uap uap kecil melayang di wajahnya.
“kau lapar”.
   Aku tersenyum,mengakui kata katanya yang tidak terdengar seperti pertanyaan.
“mau kuceritaka sesuatu agar kau berhenrti lapar?”.
   Aku mengangguk menunggunya bicara lagi.dengan pelan ia memandangiku,tanpa eskpresi,lalu mengalirah cerita tentang burger,cerita sederhana miliknya.
    Ia bilang dulu,dulu sekali,ada sebuah kedai kecil di manhattan,menjual berger terenak yang pernah ia makan,mereka kadang membagikan makanan itu kepada orang orang yang kelaparan di jalanan,lalu menceritakan satu cerita agar mereka yang lapar berhenti menginginkan makanan.cerita yang mereka ceritakan dengan cara yang indah.
    Ia menghela nafasnya,memberi jeda pada kata kata yang meninggi.
  Ia bilang ia adalah salah satu dari mereka yang kelaparan,salah satu yang memakai burger itu,salah satu yang mendengar cerita yang sekarang dia ceritakan padaku.
    Ia tersenyum memandangi wajahku yang penasaran,aku menelan ludahku karna wajah itu terlihat berbeda dari petama kali aku menatap wajahnya.
     Kedai itu punya semakin banyak pelanggan dan tidak semua orang bisa membelinya,karna mereka bilang tidak mudah mencari bahan burger yang enak,maka mereka meminta bantuan dari orang orang yang pernah mereka tolong,yang pernah memakai burger burger mereka,termasuk orang yang duduk disampingku,orang yang sedang menceritakan cerita sederahan nya.
“kalian menolongnya”.
  Aku memotong cerita itu,orang disamping ku tersenyum,melanjutkan ceritanya.
     Ia bilang mereka bahkan tidak berfikir dua kali untuk menolong,orang orang yang tidak memiliki apapun akan melakukan apapun untuk sebuah pertolongan kecil.
   orang orang yang bersedia menolong di kumpukan di belakang kedai,di sebuah dapur kecil yang konu,masih memakai tungku dan kayu bakar.
   Mereka disuruh berjejer dan berdiri sambil di tatap oleh koki,secara beraturan di berikan ciri dengan catatan kecil,di masukan ke sebuah ruangan besar di bawah kedai,di ruang bawah tanah,dan mereka baru sadar apa yang sebenarnya terjadi sampai mereka di biarkan terkunci di dalam ruangan pekat dan gelap,diberikan makanan roti sisa.orang orang itu bilang,bahan burger sudah habis,mereka juga bilang,mungkin orang orang yang sedang mereka kurung adalah orang orang terakhir yang mereka berikan burger itu,orang orang terakhir yang menolong mereka dengan bayaran burger.
    Ketika mereka terbangun di entah malam atau siang keberapa,Satu persatu,kadang ada dua orang yang di tarik keluar,semakin hari semakin banyak,dan setiap orang yang pergi  tidak pernah kembali.
 Sekali lagi orang disamping ku menghela nafasnya.
    Ia bilang bahwa dia orang yang entah keberapa yang di bawa keatas kedai,diseret bersama empat orang lainnya,lalu di paksa menikmati pemotongan tubuh teman temannya satu persatu,orang orang didalam dapur itu tidak perduli,tidak perduli dengan potongan potongan yang memercikan darah keseluruh baju kemeja putih mereka.wajah mereka serius hanya menatap seperti manusia mansuia yang mereka potong adalah daging ayam.yang lain menunggu di penggilingan,yang lain fokos memasukan kedalam air mendidih.mereka sibuk dan tidak perduli.
    Malam itu,mereka tau apa yang bisa mereka lakukan untuk orang orang yang memberikan mereka burger dan apa yang membuat burger itu terlalu enak untuk tidak di beli,mereka tau apa yang harus mereka lakukan,bahkan ketika mereka sudah menjadi potongan potongan tubuh yang di giling,membagikan cerita ini kepada semua orang,membantu penjual burger memenuhi pesanan.membantu mereka menjual banyak burger tanpa kehabisan daging.lalu cerita sederhana itu berakhir.
     Aku menelan ludahku,merasakan musim salju jauh lebih diangin dari sebelumnya.
   ketika ia mengangkat wajahnya dan menatapku,aku entah kenapa degan cepat berdiri,sesopan mungkin mejauh dan mengatakan bus ku sudah datang,ia masih tersenyum bahkan ketik aku masuk ke bus,aku merinding,benar benar merinding.
     Ketika bus menjauh,meninggalkan potongan cerita sederhana di Westchester,aku menatap kebelakang kaca bus lagi,lengang,tidak ada siapapun kecuali kebekuan dan ketakutan.
…………………..
       Lalu cerita sederhana itu datang lagi di dalam bus,ketika aku terlelap karna kelelahan aku terbangun di tempat ini,sendirian dan dalam kegelapan ruang bawah tanah.
   Ketika suara decitan pintu terbuka,aku tercekat menatap bayangan hitam yang perlahan mendekat.
      Tapi sebelum aku mengakhiri cerita ini,ijinkan aku meminta maaf padamu,aku sungguh minta maaf,karna mungkin ketika kau membaca cerita ini aku sudah pergi berkeliling kota mencari teman dan menolong penjual burger,sama seperti yang sekarang ku lakukan ketika menceritakan cerita ini.aku sedang menlong mereka.
   Kumohon maafkan aku,karna mungkin ini akan jadi tidur terakhirmu,maaf karna kau harus terbangun di tempat sempit di manhattans semu yang gelap.
   Maaf karna aku,nama kalian tercatat di catatan kecil mereka.
   Kawan,Orang itu semakin dekat,mengangkan pisau besarnya.
“apa kau orang terakhir di gudang ini?”.
    Suara nya mendengung.
“artinya kita butuh lebih banyak”.